Home » SHYL » Mengupas Keistimewaan Istana Cipanas dan Sang Gustaaf Willem Baron Imhoff Secara Kontemporer
Istana

Mengupas Keistimewaan Istana Cipanas dan Sang Gustaaf Willem Baron Imhoff Secara Kontemporer

Negara Indonesia memiliki beberapa Istana Kepresidenan, diantaranya Istana Merdeka dan Istana Negara yang berada di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Gedung Agung di bertempat Yogyakarta, Istana Tampaksiring di daerah Bali, dan Istana Cipanas di Cipanas. Istana Cipanas adalah istana yang paling tua diantara yang lain yang ada di Indonesia. Istana Cipanas terletak di Desa Sindangjaya Cipanas Kabupaten Cianjur-Jawa Barat. Usia Istana ini berkisar kurang lebih 270 ditambah 4 tahun, dibangun pada abad ke-17 yaitu sekitar tahun 1742.

Bangunan Istana Kepresidenan Cipanas luasnya kurang lebih 8000 m² namun untuk keseluruhan luasnya sekitar 26 ha, cukup luas untuk tempat kediaman Presiden dan kabinetnya. Ada beberapa gedung didalam Istana Cipanas ini, antara lain Geudng Induk yang dibangun tahun 1742, Gedung Yudistira disebut juga Paviliun Yudistira, Paviliun Bima, Paviliun Arjuna, Paviliun Nakula, Paviliun Sadewa, Gedung Pemandian Panas Alam, Gedung Bentol, Museum Istana Cipanas, dll. Untuk Paviliun Yudistira, Nakula dan Sadewa di bangun pada masa kekuasaan Belanda di tahun 1916. Gedung Pemandian Panas Alam terbagi menjadi 2, yang pertama khusus untuk tempat Presiden dan yang ke 2 untuk para menteri atau kabinet Presiden.

Nilai seni pada bangunan Istana Cipanas sangat tinggi. Tiang tiang bangunan pada ruangan penerima tamu bercorak khas Sunda, sedangkan langit-langitnya bergaya Eropa yang dinamakan gaya Indis. Akulturasi seni tersebut terjadi karena Istana Cipanas dibangun pada masa kolonialisme Belanda, sehingga perpaduan seni yang sangat klasik terlihat indah sampai hari ini.

Selain akulturasi seni pada bangunan, furnitur yang dipakai pun tak kalah berseni. Kerap didatangkan dari luar negri. Dalam ruang tamu, terdapat lampu kristal berumur 117 tahun yang didatangkan dari Cekoslowakia tahun 1900-an, selain itu ada karpet yang didatangkan dari Negeri Kebab atau Turki sekitar tahun 1950-an. Tak hanya didatangkan dari luar negri saja, dari dalam negri pun ada. Meja dan kursi di Istana Cipanas semuanya berasal dari Jepara. Untuk hiasan dinding Istana Cipanas punya banyak lukisan indah untuk dipandang. Lukisan Abdullah seringkali bertengger didinding Istana. Dan yang paling terkenal adalah Lukisan yang berjudul Jalan di Tepi Sawah atau sering disebut lukisan 1000 pandang yang dilukis oleh S. Sujono. Disebut lukisan 1000 pandang karena lukisan 2 dimensi ini jika dilihat dari berbagai macam arah, gambar jalan yang terdapat dalam lukisan itu seperti mengikuti kemana mata memandang, sehingga diberi julukan 1000 pandang.

Alih-alih keindahan Istana Cipanas, ternyata ia mempunyai fungsi yang berbeda-beda setiap zamannya. Kala zaman kolonialisme Belanda, Istana Cipanas ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan para kompeni Belanda (Dutch East India Company) alias Vereenigde Oostindische Compagnie. Berbeda lagi dengan masa Imperialisme Jepang, Istana Cipanas hanya digunakan untuk persinggahan dan transit para bushi atau bangsawan militer abad pertengahan dan awal-modern Jepang. Dan Istana Cipanas ini resmi menjadi Istana Kepresidenan Cipanas ketika setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang di proklamirkan oleh Ir. Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta Pusat.

Istana Cipanas dibangun oleh seorang Gubernur Jendral Belanda yang bernama lengkap Gustaaf Willem Baron Van Imhoff. Ia lahir pada tanggal 8 Agustus 1705 di wilayah East Frisia. Gustaaf Willem Baron van Imhoff pernah menjadi anggota Dewan Hindia yang kemudian menjadi Gubernur Kolonial di Ceylon (sekarang Srilanka). Ia mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur Ceylon pada 12 Maret 1740 dan dipanggil pulang ke Batavia. Menurut sejarah, Gustaaf Willem Baron van Imhoff ini adalah satu-satunya bangsawan berdarah Jerman yang sukses meraih kedudukan tertinggi sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Dutch East Indies) pada Mei 1743.

Singkat sejarah mengenai kejadian pengangkatan Imhoff sebagai Gubernur Jenderal adalah saat kembali menjejak di Batavia, Adriaan Valckenier ( Gubernur Jendral  sebelum Imhoff diangkat)  mendiskriminasi dan menekan etnis Tionghoa di Betawi hingga pecah peristiwa Batavia 1740. Imhoff yang kurang suka melihat sistem pemerintahan Valckenier tersebut, menentang keras tindakan Valckenier. Akibatnya Imhoff disingkirkan dan dipulangkan sebagai tawanan oleh Valckenier ke Belanda. Pada sekitar bulan Mei tahun 1743 saat kapal yang membawanya baru merapat di Amsterdam, Imhoff mendapat mandat berupa surat penunjukan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda menggantikan Valckenier dan diminta segera kembali ke Batavia oleh Heeren Seventien (Dewan Tujuh Belas). Sehingga Valckenier yang sebelumnya menyingkirkan Imhoff, diturunkan dari jabatannya dan dipulangkan ke Belanda untuk menjalani proses persidangan.

Istana Kepresidenan Cipanas adalah salah satu warisan yang harus dijaga, dirawat dan dilestariakan oleh semua warga Negara, baik dari militer, sipil, bahkan masyarakat. Sejarah yang mengatakan bahwa pendiri Istana Cipanas adalah Gustaaf Willem Baron van Imhoff bangsawan keturunan Jerman, jangan menjadikan orang Indonesia tidak mau memelihara Istana Cipanas, karena sebagai warga Negara yang cerdas dan kritis yang paling penting adalah bagaimana cara kita memelihara sebuah aset Negara, dan jangan pernah mengabaikan itu sekalipun. Sesuai kata Pak Soekarno JAS MERAH “Jangan Pernah Lupakan Sejarah.”