Home » Halo Cipanas » Sepatah Kisah Dari Cipakem

Sepatah Kisah Dari Cipakem

Bandung, merupakan rumah kedua bagiku setelah Cipanas. Kota ini memberikan andil yang besar bagiku. Karena disinilah aku sedang memperjuangkan sebuah asa untuk meraih masa depan yang lebih baik. Perkenalkan, penulis merupakan seorang mahasiswa yang berasal dari Cipanas, Cianjur. Lahir, menempuh pendidikan taman kanak-kanak hingga SMA di Cipanas, kemudian hijrah ke Bandung.

Penulis baru saja mengikuti rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Bertempat di Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Hidup di ‘kampung’ orang selama tiga minggu, memberikan banyak pesan moral yang bisa dipetik. Sambutan hangat dari masyarakat setempat, senyum tulus dari setiap warga, percakapan santai yang tidak dengan skenario, serta canda tawa anak kecil menghiasi hari-hariku disana.

Penulis berkenalan dengan seorang warga disana yang menurut penulis sangat menginspirasi sekali, namanya Pak Uju. Nama yang mudah diingat hanya terdiri dari tiga huruf saja. Dari beliau, penulis banyak mendapatkan pelajaran hidup yang berarti. Sehari-hari, beliau mengurusi kambing ternak miliknya, sesekali beliau menjual hasil tanaman seperti pisang ke kota. Beliau juga merupakan seorang pengurus Desa Cipakem, bisa disebut beliau ‘serba tahu dan serba mau’ untuk kepentingan desa. Selain desa, beliau juga mengurusi SMK dan Mesjid yang terletak di belakang rumahnya. Itu baru saja yang beliau ceritakan kepadaku, mungkin saja ada peran lain yang beliau enggan untuk diceritakan. Banyak sekali peran beliau kan?

Perkataan beliau terkait banyaknya peran yang Ia jalani sekarang adalah “Ya gimana lagi dek, warga disini emang banyak, tapi kalau ngurus-ngurusin yang begituan mana mau, ngga ada duitnya”. Lalu penulis bertanya, mengapa Pak Uju masih mau saja menjalani itu semua, jawaban beliau yang sangat menginspirasi adalah “Ya kalau bukan kita-kita ini, siapa lagi yang mau bangun desa? Saya ngga mau desa gini-gini terus, harus ada kemajuan. Yaa walaupun saya kalau bantu uang mah gak punya, seenggaknya saya punya pikiran sama tenaga.”

Dari sini penulis tidak bisa berkata apa-apa lagi. Beliau memang hanya lulusan Madrasah saja, tapi menurut penulis, hati beliau lebih dari seorang lulusan sarjana, bahkan terkadang seorang sarjana saja enggan untuk kembali ke tempat dimana mereka dibesarkan, hanya berorientasi kepada materiil untuk dirinya sendiri. Penulis merasa malu, belum memiliki pemikiran seperi Pak Uju ini, masih kadang merasa egois akan kepentingan diri sendiri.

Saya sadar, bahwa apabila bukan saya sebagai pemuda yang sedari dulu meminum air jernihnya Cipanas, berdiri di atas tanah suburnya Cipanas, bernafas dari oksigen segarnya Cipanas, siapa lagi yang akan membangun kota kecil ini. Hati yang berlandaskan kecintaan, bukan dengan otak yang berlandaskan kepentingan. Dengan tulisan singkat ini, saya mengajak kepada seluruh Pemuda-Pemudi Cianjur, khususnya Cipanas untuk mulai memperbaiki diri sendiri, mulai menata masa depan, bersiap menghadapi segala tantangan zaman yang sudah semakin modern, untuk membangun Cipanas kita tercinta. Tongkat estafet kepemimpinan ini sekarang akan berada di tangan pemuda. Mari lintingkan lengan baju untuk bersiap menerima tongkat estafet kepemimpinan. Aku, kamu, akan menjadi kita untuk Cipanas kita tercinta.

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” –Ir. Soekarno.